Halo, semuanya!
Kali ini #URDUMingguan mengajak kalian sedikit merenungkan soal suara-suara di dalam jiwa dan pikiran kalian, khususnya untuk orang-orang yang merasa kalau dirinya 'introver'. Bagi kalian yang mencari-cari definisi introver, mampir aja ke tautan ini dan temukan apa itu kepribadian introver. Seorang penulis, M.F.Hazim, berusaha untuk menggambarkan bagaimana dan apa sih sebenernya yang dirasakan sama seorang introver melalui novelnya yang berjudul "Introver". Nah, di ulasan kali ini, aku akan berusaha untuk mengulas novel tersebut 😀
Ulasan Novel 2017, INTROVER KARYA M.F.HAZIM.
(Novel Bahasa Indonesia, Tahun 2017)
Seorang tokoh laki-laki bernama Nawani yang masih menduduki bangku SMA ini mengaku kalau dirinya adalah seorang introver. Dengan dan dalam berbagai bentuk, ia menceritakan bagaimana masa SMA ini berusaha dengan keras untuk dilaluinya terlebih ketika ia harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya seorang introver. Dia bukan tipe anak yang tidak mau bergaul dengan orang banyak. Adalah sebuah kesalahan besar apabila seseorang memberi cap pada Nawawi sebagai seseorang yang anti sosial. Dia bukan anak laki-laki seperti itu. Nawawi hanya tidak bisa memposisikan dirinya di antara teman-temannya. Sekalipun ia sangat berusaha, hasilnya tetap sama. Nawawi menghabiskan waktu sebagai seorang introver yang benar-benar tenggelam di dalam dunianya sendiri. Di dalam kelas, hobinya tidak lebih dari sekedar mengamati apa yang terjadi di sekitarnya, membaca buku, mendengarkan musik, dan hal-hal semacam itu yang tidak akan dilakukan oleh teman-teman lainnya. Meskipun begitu, akhir kisah tidak akan selalu menyudutkan orang-orang introver. Di akhir kisah, Nawawi akan mendapati bagaimana seorang ambiver dapat menjadi teman yang paling pas untuk kesendiriannya.
Percayalah, menjadi seorang introver itu nggak mudah. Seringkali orang salah paham terhadap kaum-kaum introver karena mereka dianggap tidak mau bicara, tidak mau bersosialisasi, dan tidak mau berusaha untuk membuka diri. Nyatanya apa yang ada di dalam kepala si Nawawi ini adalah keberadaan dari hal-hal yang berkebalikan dengan statement orang-orang. Nawawi selalu mencoba untuk berkomunikasi dengan teman-temannya dan hasilnya selalu tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Ia memilih untuk lebih fokus dengan apa yang membuat ia nyaman. Hazim dalam hal ini benar-benar mampu mengemas tokoh Nawawi secara apik karena penggambaran detil mengenai apa yang dipikirkan seorang Nawawi. Hazim mendeskripsikan apa dan bagaimana yang dirasakan oleh seorang introver terhadap dunia yang ada di sekitarnya. Nggak cuma sampe disitu, alur mundur atau flashback yang dipakai oleh Hazim di novel ini juga bisa jadi satu tambahan plus karena dia nggak secara berbelit-belit atau jumping dalam menggunakan alur mundur. you know lah yaaa... hahaha, sedikit flashback mampu membawa mantan kembali (HAH?! APASIH?!).
Hem... tapi mungkin ada satu pertimbangan yang harus kalian baca di bawah ini sebelum benar-benar mau mengeksplorasi tokoh Nawawi dengan membeli novel karya Hazim ini. Menurutku penggunaan diksi dalam novel ini bagus, nggak terlalu klise dan variatif. Tapi sayangnya, diksi-diksi baru itu yang kemudian dipergunakan sama Hazim untuk menggambarkan tokoh Nawawi secara detil. Detil dalam hal ini berarti benar-benar detil. Kalau aku nggak salah, ada sekitar 8 bab di dalam novel ini dan sejujurnya aku mulai berhenti baca novel ini ketika udah masuk di bab 6. Sebuah 'ke-detil-an' yang dikisahkan oleh Hazim ini sayangnya juga menjadi belati buat tulisannya sendiri di mataku. Hal-hal yang sifatnya detil itu nggak masalah sih, tetapi kalau berlebihan dan cenderung mengisahkan sesuatu yang sama... yaaa, kalian pasti tau rasanya. Agak... boring gimanaaa gitu. Jadi mau nggak mau, aku cuma baca novel ini bagian prolog, bab satu sampe lima, dan langsung ke epilog. Udah. Gitu aja. Karena ketika aku baca-baca sekilas di bab 6 sampe 8, semuanya masih sama. Menceritakan hal-hal yang sifatnya detil dan yaaa begitulah, terlalu berlebihan.
Sejujurnya, untuk harga sekitar Rp 50.000, novel ini masih bisa disebut worth-to-buy alias layak beli. Kalau kalian benar-benar mau mencoba untuk mengerti dan memahami apa yang dirasakan sama seorang introver, nggak ada salahnya kalian beli novel ini dan baca kisahnya Nawawi supaya tahu dan bisa merasakan. Percaya deh, Hazim bener-bener bisa menciptakan suasana seorang introver ketika aku lagi baca buku itu.
Kali ini #URDUMingguan mengajak kalian sedikit merenungkan soal suara-suara di dalam jiwa dan pikiran kalian, khususnya untuk orang-orang yang merasa kalau dirinya 'introver'. Bagi kalian yang mencari-cari definisi introver, mampir aja ke tautan ini dan temukan apa itu kepribadian introver. Seorang penulis, M.F.Hazim, berusaha untuk menggambarkan bagaimana dan apa sih sebenernya yang dirasakan sama seorang introver melalui novelnya yang berjudul "Introver". Nah, di ulasan kali ini, aku akan berusaha untuk mengulas novel tersebut 😀
Ulasan Novel 2017, INTROVER KARYA M.F.HAZIM.
(Novel Bahasa Indonesia, Tahun 2017)
Penulis : M.F. Hazim
Judul : Introver
Tahun terbit : Februari, 2017
Jumlah halaman : 276 halaman
Penerbit : PT Pustaka Alvabet
Kota terbit : Jakarta.
Seorang tokoh laki-laki bernama Nawani yang masih menduduki bangku SMA ini mengaku kalau dirinya adalah seorang introver. Dengan dan dalam berbagai bentuk, ia menceritakan bagaimana masa SMA ini berusaha dengan keras untuk dilaluinya terlebih ketika ia harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya seorang introver. Dia bukan tipe anak yang tidak mau bergaul dengan orang banyak. Adalah sebuah kesalahan besar apabila seseorang memberi cap pada Nawawi sebagai seseorang yang anti sosial. Dia bukan anak laki-laki seperti itu. Nawawi hanya tidak bisa memposisikan dirinya di antara teman-temannya. Sekalipun ia sangat berusaha, hasilnya tetap sama. Nawawi menghabiskan waktu sebagai seorang introver yang benar-benar tenggelam di dalam dunianya sendiri. Di dalam kelas, hobinya tidak lebih dari sekedar mengamati apa yang terjadi di sekitarnya, membaca buku, mendengarkan musik, dan hal-hal semacam itu yang tidak akan dilakukan oleh teman-teman lainnya. Meskipun begitu, akhir kisah tidak akan selalu menyudutkan orang-orang introver. Di akhir kisah, Nawawi akan mendapati bagaimana seorang ambiver dapat menjadi teman yang paling pas untuk kesendiriannya.
Percayalah, menjadi seorang introver itu nggak mudah. Seringkali orang salah paham terhadap kaum-kaum introver karena mereka dianggap tidak mau bicara, tidak mau bersosialisasi, dan tidak mau berusaha untuk membuka diri. Nyatanya apa yang ada di dalam kepala si Nawawi ini adalah keberadaan dari hal-hal yang berkebalikan dengan statement orang-orang. Nawawi selalu mencoba untuk berkomunikasi dengan teman-temannya dan hasilnya selalu tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Ia memilih untuk lebih fokus dengan apa yang membuat ia nyaman. Hazim dalam hal ini benar-benar mampu mengemas tokoh Nawawi secara apik karena penggambaran detil mengenai apa yang dipikirkan seorang Nawawi. Hazim mendeskripsikan apa dan bagaimana yang dirasakan oleh seorang introver terhadap dunia yang ada di sekitarnya. Nggak cuma sampe disitu, alur mundur atau flashback yang dipakai oleh Hazim di novel ini juga bisa jadi satu tambahan plus karena dia nggak secara berbelit-belit atau jumping dalam menggunakan alur mundur. you know lah yaaa... hahaha, sedikit flashback mampu membawa mantan kembali (HAH?! APASIH?!).
Hem... tapi mungkin ada satu pertimbangan yang harus kalian baca di bawah ini sebelum benar-benar mau mengeksplorasi tokoh Nawawi dengan membeli novel karya Hazim ini. Menurutku penggunaan diksi dalam novel ini bagus, nggak terlalu klise dan variatif. Tapi sayangnya, diksi-diksi baru itu yang kemudian dipergunakan sama Hazim untuk menggambarkan tokoh Nawawi secara detil. Detil dalam hal ini berarti benar-benar detil. Kalau aku nggak salah, ada sekitar 8 bab di dalam novel ini dan sejujurnya aku mulai berhenti baca novel ini ketika udah masuk di bab 6. Sebuah 'ke-detil-an' yang dikisahkan oleh Hazim ini sayangnya juga menjadi belati buat tulisannya sendiri di mataku. Hal-hal yang sifatnya detil itu nggak masalah sih, tetapi kalau berlebihan dan cenderung mengisahkan sesuatu yang sama... yaaa, kalian pasti tau rasanya. Agak... boring gimanaaa gitu. Jadi mau nggak mau, aku cuma baca novel ini bagian prolog, bab satu sampe lima, dan langsung ke epilog. Udah. Gitu aja. Karena ketika aku baca-baca sekilas di bab 6 sampe 8, semuanya masih sama. Menceritakan hal-hal yang sifatnya detil dan yaaa begitulah, terlalu berlebihan.
Sejujurnya, untuk harga sekitar Rp 50.000, novel ini masih bisa disebut worth-to-buy alias layak beli. Kalau kalian benar-benar mau mencoba untuk mengerti dan memahami apa yang dirasakan sama seorang introver, nggak ada salahnya kalian beli novel ini dan baca kisahnya Nawawi supaya tahu dan bisa merasakan. Percaya deh, Hazim bener-bener bisa menciptakan suasana seorang introver ketika aku lagi baca buku itu.
Sekian #URDUMingguan kali ini!
Sampai jumpa di #URDUMingguan berikutnya dan jangan lupa komentar/share kalau kalian merasa pas dengan ulasan ini.
KALAU BERKESEMPATAN, JANGAN LUPA UNTUK BELI NOVELNYA YAAA!
Komentar
Posting Komentar