Unsyiah: Jembatan Pendidikan Generasi Penerus Tanah Serambi Mekkah


Gambar 1. Gedung Pusat Universitas Syiah Kuala
sumber foto : https://www.instagram.com/univ_syiahkuala
Sebagai sebuah universitas tertua di tanah Aceh Darussalam, Unsyiah atau Universitas Syiah Kuala telah berperan besar dalam pendidikan di provinsi tersebut. Hal ini tentunya dibuktikan dengan jumlah mahasiswa yang telah melebihi angka 30.000, akreditasi institusi yang tetap bertahan pada predikat “A” selama bertahun-tahun (2015-2018), dan capaian institusi yang seringkali melebihi target yang diinginkan. Hal-hal tersebut tentunya dapat mendukung kontribusi Unsyiah, khususnya dalam pendidikan di Aceh. Tidak sampai pada bukti di atas saja, beberapa faktorpun telah membuktikan bahwa Unsyiah telah menjadi jembatan pendidikan yang tepat bagi generasi penerus tanah Serambi Mekkah ini.
Berdasarkan dokumen Rapat Kerja 2018 yang dipresentasikan oleh Rektor Unsyiah (2018), terdapat peningkatan kualitas kegiatan kemahasiswaan. Dalam segi mahasiswa berprestasi, tahun 2017 silam boleh jadi  menjadi tahun emas sebab 79% mahasiswa Unsyiah telah menunjukkan prestasinya. Selain jumlah mahasiswa berprestasi, presentasi mahasiswa yang mendapatkan beasiswa juga melampaui target yang ditentukan, yakni 31,43% dari target yang hanya berada pada angka 23,05%.
Lalu? Apakah arti angka-angka di atas? Tentunya bagi sebuah institusi pendidikan tinggi seperti Unsyiah, capaian pendidikan yang kerap melampaui target menandakan adanya perubahan ke arah yang lebih baik. Terhadap pendidikan Aceh sendiri, capaian inilah yang dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Dalam hal mahasiswa berprestasi, misalnya, ajang-ajang perlombaan tentunya dapat menjadi sarana yang tepat bagi para mahasiswa untuk mengetahui seberapa kompeten mereka baik di bidang akademis maupun nonakademis. Namun, hasil dari perlombaan tersebut tidak hanya akan berdampak secara pribadi ke mahasiwa. Dampak positif juga tentunya dirasakan oleh pihak universitas karena dengan mahasiswa-mahasiswa berprestasi itulah, pihak Unsyiah dapat membuktikan adanya dukungan yang bersifat kontinu kepada para mahasiswa.
Tidak cukup sampai pada taraf internal—yakni capaian mahasiswa berprestasi dan jumlah mahasiswa penerima beasiswa—di dalam Unsyiah itu sendiri, taraf eksternal yang saat ini telah dicapai oleh Unsyiah dapat menjadi nilai plus bagi pendidikan di Aceh sendiri. Berbagai kerja sama yang telah dilakukan oleh universitas dengan sejumlah instansi menandakan adanya keterbukaan dan juga langkah menuju perkembangan dalam dunia pendidikan tinggi.
Gambar 2. Kerja sama Unsyiah dengan Aarhus University
Sumber: http://unsyiah.ac.id/kerjasama/
Sebagaimana seharusnya sebuah lembaga, Unsyiah telah menjalin berbagai kerja sama yang tentunya bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan SDM. Sebagai contoh, kerja sama yang dijalin dengan salah satu universitas asal Denmark pada tahun 2014 lalu. Tujuan pertama dalam nota kerja sama antara Unsyiah dengan Aarhus ini adalah pembangunan kapasitas, akademik, dan teknologi. Selain itu, terdapat pula sejumlah kerja sama lain yang telah dilakukan Unsyiah dengan tujuan serupa. Beberapa contoh lain adalah kerja sama dengan Southern Cross University pada tahun 2012, Prince of Songkla University pada tahun 2014, James Cook University pada tahun 2015, dan masih banyak lagi. Adanya usaha terus menerus setiap tahun untuk menjalin kerja sama dengan lembaga eksternal telah membuktikan bahwa sebagai lembaga pendidikan tinggi, Unsyiah telah berusaha secara nyata untuk terus memajukan pendidikan di Aceh.
Setelah melihat beberapa poin di atas, tentunya akan terbesit sebuah pernyataan: lantas bagaimanakah hubungan antara pendidikan di Aceh dan Universitas Syiah Kuala sendiri?
Untuk menjawab sekaligus menyimpulkan apa yang menjadi bahasan pada kali ini, yaitu Unsyiah sebagai jembatan pendidikan bagi generasi penerus di Aceh, Unsyiah jelasnya telah berkontribusi dalam membangun pendidikan Aceh. Kontribusi ini telah nampak dalam usaha mereka mencetak mahasiswa berprestasi dan membangun kerja sama dengan pihak asing. Sebagaimana dilansir oleh Tempo (3/18) tentang ujaran M. Nasir, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, bahwa untuk mencetak lulusan universitas yang berkompeten, maka diperlukan kerja sama dengan pihak asing, sekaligus dorongan-dorongan untuk terus mengukir prestasi dalam bidang non akademis.

Komentar